babibabi

berkerak topeng..ibu babi berjamur..
menghunus pedang padang kerontang..
babibuta..berlumut..
menjilat darah dan liur sendiri..

berseru pada langit

Bunglon

Bunglon

sebuah dedikasi

bagaimana harus melenyapkan kertas-kertas ini..
sementara aku sekarang berpijak di atas serpih-kepingnya.
bagaimana hendak menghancurkan buku ini..
lagipula ini hanyalah kesementaraan yang tidak aku tahu ujungnya.

raga terbatas ruang merah persegi dengan asa yang tanpa batas sebetulnya.
jiwa dan pikiran masih disini tidak mungkin kemana, aku hanya sedang terobsesi.

kertas dan buku sepertinya telah membingkai uraian singkat dari sepenggal perjalanan.
sementara goresan pena dan pensil didalamnya memberi ingatan akan elegi seumur hidup.
secara sporadis dan membelenggu, lalu menyeraknya..
kemudian statis nan diam, lalu menyadarkannya..

seperti hendak menembusi pintu jendela yang terbuka.
aku adalah seekor burung..
tetapi ruangan ini gelappengap menandakan celah tertutup rapat.
lalu aku adalah residivis dalam tahanan nurani..

kertas dan buku penuh dengan guratan pena dan pensil..
indah, bercecer noda kecoklatan bekas percikan kopi instan buatan teman.
terdepak kedangkalan atas pembenaran..
berlalu, kuletakkan kembali kertas dan buku pada tempatnya semula…
keranjang sampah.

pulang

Dan, jika daun
selalu saja menunggu halimun subuh..
mentari enggan beranjak dari
keheningan abadi..
awal suci hari ini

Bertautnya dengan hawa rindang
gemilang senyap senyuman sapa
bahkan seiring hembusan nafas
milik entah siapa ini
jengah jua tuk hampiri..

Siapa juga yang telah memulai
semua proses-proses ini..
sampai pada titik penat
tak di hirau-harapkan..
tak diharapkan-di hirau..

Semuanya berkumpul
pada segelas penuh harapan usang..
di tenggak kala membutuhkannya..
adiksi..pasti..
Serpihan-serpihan silau
yang porak-morak
mengakhiri semuanya…
aku pulang..

didiktewaktu

lihatlah dunia dengan butiran pasir
kita tak dapat mengganti waktu
ini adalah masa lalu di masa depan
lama sudah aku sadari
tetap saja kuikuti matahari

tatapan mata kulepas
berhembus lembut membelai
berikan syahdu yang mencekam
semua itu seolah air sejuk
pada hampanya yang nyaris lupa

sungkan tanyaku malu-malu
pada suara taman
gaduh sudah jauh
lumarkan kebenaran-kenyataan
yang memar.. yang akan hilang

biarlah semua terbuai
ilusi dalam angan
iringi yang bergema
mengartikan-mencari
ataukah.. hanya sangkaku?