Kedua Mata

Aku mendapati kedua mata, keduanya hitam lugas berbinar..
aku mendapati kedua mata, keduanya yang tak bisa ku terjemahkan..
aku mendapati kedua mata, satu dan duanya memancar tiap-tiap pesona..
aku mendapati kedua mata, keduanya tak bisa ku eja dengan aksara pula novel cinta..
aku mendapati kedua mata, engganku pada kedip di keduanya..
aku mendapati kedua mata, pada paras ayu yang keduanya kini memejam, menjadikan penanda istirah menuntut raga..
selamat lelap, selamat malam..

Pati, 11 November 2011


Menanam Puisi

Agar embun meruncing pada enggan
lalu meleleh di perbukitan penat
barangkali purnama dihitung pucuk-pucuk pinus
menggeliat-menggelitik perut bulatnya
bayang yang disembunyikan
di bawah meja bersalju yang terlelap di bawah lampu kota
menderaikan kepang rambut si gadis penyuka langit basah
konon, ia juga mendamba hijau yang diceraikan kuning
bermain riang dan berlalu
yang sepulang sekolah menyambut ayah ibu
kan menuntun ke selasar sahaja

Detik yang berlarian
masa yang antah merujuk rayu pada keresahan
berantah yang menyusun kepingan masa kuadrat kesekian

Biar embun meruncing pada enggan
dan meleleh di bukit kegelisahan
purnama yang dihitung di kemudian
lalu seseorang menanam puisi di kepalanya
walau kadang enggan

Pati, 30 Oktober 2011


Udara

Ada jarak
di depan mata
dia udara
adakah sebebas ia?

Eloprogo, Mei 2011


bagaimana

ada ranting pohon yang menjulang,
rumah-rumah bersusun,
udara dan langit langit abu
yang kecoklatan
lalu puisi bagaimana yang harus kutuliskan?

jakal km.5 – 110918


Kekasih Sepi

Para-para kekasih sepi

memunguti dandelion

menancapkan pancang di padang gersang

 

Para-para kekasih sepi

membiaskan sunyi di keteduhan

menelantarkan aduh dengan tarian

 

Para-para kekasih sepi

terbangnya tinggi

mengurai-urai udara

seteguk niskala

menyematkan senyum sederhana

 

Para-para kekasih sepi

tengah malam Mei di pinggir kali

di tepi jurang mencuram

perihal misteri nan murung terbungkam


Aburindu

Aku rindu pada kecanggungan
pada ke-statisan
saat-saat teks tak bersamaku
bersamamu
/lantas apa yg diharapkan dari rindu?/
rindu
selalu mengharapkan jarak
jarak yang selalu membuatnya menyala


Delapan Juli

Aku melihatmu
terlelap pulas di sisi gelap bulan..
di sisi tak terjangkau mentari yang mengeja malam..
dibalik sabit sang lunar
sementara aku mendata para-para penghuni malam
bebunga di taman lelap
yang selalu bersinergi mencipta romantika
bertajuk mimpi indah..

Playground – 080711


Hilang

Satu demi satu

patahan

kecil mungil

kecil mungil perlahan

 

Tetes-tetes merah

pula biru

kesukaanmu

dibeku dan terpejam kelopak mata

membias dalam hening yang bersahabat

 

Beberapa masa yang leluasa

menafsirkan imla kepada jeda

eja

seka

aksara

juga kemeja

teruntuk tepi-tepi mimpi

 

Lalu di suatu masa yang alpa

aku

kamu

puisi?

entah sesiapa

bersimpang

dan hilang di tikungan yang petang


Pergi Pulang Kuadrat

Suatu saat anda tak di kota ini
Lunar..
sabitmu menghangat
sebelum kunang dan
Secret Garden menjelma
lukisan ketenangan
beserta penghuni-penghuni malam

Saya tunggu
di sela rerimbun perdu membisu
menggigilkan kelopak mata memejam

Pulanglah

Sepertinya
saya benar belum tahu apa makna dingin

Senyata rupa
tertawan tanda
berkali
melantarkan gigil
lalu memanggilnya pulang

Pergi
saya


Selubung Monolog

Mensiasati patahan-patahan hujan

menelan bulat-bulat matahari yang demam

hingga tanda-tanda harga mati

kelakar dengar sanctuary


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.