Menanam Puisi

Agar embun meruncing pada enggan
lalu meleleh di perbukitan penat
barangkali purnama dihitung pucuk-pucuk pinus
menggeliat-menggelitik perut bulatnya
bayang yang disembunyikan
di bawah meja bersalju yang terlelap di bawah lampu kota
menderaikan kepang rambut si gadis penyuka langit basah
konon, ia juga mendamba hijau yang diceraikan kuning
bermain riang dan berlalu
yang sepulang sekolah menyambut ayah ibu
kan menuntun ke selasar sahaja

Detik yang berlarian
masa yang antah merujuk rayu pada keresahan
berantah yang menyusun kepingan masa kuadrat kesekian

Biar embun meruncing pada enggan
dan meleleh di bukit kegelisahan
purnama yang dihitung di kemudian
lalu seseorang menanam puisi di kepalanya
walau kadang enggan

Pati, 30 Oktober 2011

Advertisement

About toshioe

simplicity overminded View all posts by toshioe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.